Archive for SaintPeter.co.cc TETAP SEMANGAT DAN MAKIN SEMANGAT
 


       SaintPeter.co.cc Forum Index -> Aneka Soup ...
Capoera

Kumpulan Cerita Mengesankan....

dapet dari forum tetangga....


Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu" Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.


buat yang punya cerita pendek lain yang menurutnya mengesankan boleh diposting disini juga..
wanto.huang

-_-" kepanjangan vin, pusing bacanya, wahahahaa...
Surya

wah nice story. very touching
Capoera

Suatu sore, udara dingin diluar. Hujan turun sangat deras. Kami pergi ke grocery store. Karena hanya akan cari kubis, saya tunggu dimobil, sedangkan pasangan saya masuk ke toko sendirian. Waktu balik lagi kemobil, kok wajahnya berbeda. Saya tanya:"Whatís with the long face?"
Dia bilang, baru saja menyaksikan kejadian yang sudah tak pernah terjadi lagi. Waktu antri pembayaran, dia melihat seorang laki laki tua, bajunya kumal dan berhelai helai, mungkin untuk menangkal udara dingin, rambutnya dikepang dua, pakai topi veld yang sudah bolong bolong.

Si kasir mentotal pembeliannya. Pak tua ini lalu sibuk mengambil uang dari saku yang satu ke saku yang lain, berusaha memenuhi harga totalnya, tetapi tanpa hasil. "Kurang." kata kasirnya.
Pak tua lalu menyisihkan beberapa items yang mungkin dia anggap agak luxurious, seperti bell pepper, keju, antara lain.
"Kurangi yang ini." kata pak tua.
"Masih kurang" kata kasirnya.
Si pak tua merogoh sakunya makin dalam. Tetap belum cukup. Lagi lagi dia menyisihkan beberapa items untuk dikurangi dari total pembelian.
Lagi lagi si kasir bilang: Belum cukup."

Kemudian, tanpa disangka, laki laki muda dibelakangnya mengeluarkan uangnya, meloloskan selembar $20.00 an, terus diberikan ke pak tua itu sambil berkata: "Here you go buddy, itís on me."
Si kasir lalu mentotal kembali, terus ada kembalian sekitar sembilan dollaran. Si kasir bilang:"Ini kembalian mau dibalikin ke dia?"
Si laki laki muda bilang: "Nope! Itís his!"

Suasana jadi amat sunyi. Kentara orang orang yang menyaksikan pada sesak dadanya, banyak mata yang basah. Pasangan saya bilang, dadanya terasa sesak, dan kerongkongannya jadi amat berat. Mata sayapun berkaca kaca waktu dia selesai cerita. Saya tanya, mana sih orang muda itu? Dia menunjukkan ke seseorang yang lagi memuat belanjaannya kemobilnya. Sebuah truk tua yang bannya sudah pada gundul. Umur dia kira kira awal dua puluhan. Dilihat dari keadaan truknya, dan umurnya yang masih muda (sehingga belum banyak waktu untuk mengumpulkan kekayaan), bisa dibilang dianya sendiri tidak kaya.

Tapi pasangan saya bilang, anak muda itu kaya banget. Buktinya dia menyebarkan hadiah berharga, sesuatu yang indah yang meninggalkan bekas yang dalam dihati orang orang, bukan saja si pak tua yang ditolongnya, tapi juga orang orang di antrian pembayaran. Lebih lagi, orang orang yang menyaksikan tadi kan punya famili, teman teman, teman sekantor, yang mungkin akan mendengar hal itu juga, seperti saya juga yang hatinya tersentuh dalam dalam. Wondeful gift which keeps giving, kata pasanganku.


dikutip dari Kolom Kita - KCM
this is a true story
Capoera

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi... tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sally mendengar ayahnya berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat...tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian... tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.

Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil !

"Apa yang kamu perlukan ?" tanya apoteker tersebut dengan suara marah. "Saya sedang berbicara dengan saudara saya."

"Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya," Sally menjawab dengan nada yang sama. "Dia sakit...dan saya ingin membeli keajaiban."

"Apa yang kamu katakan ?," tanya sang apoteker.

"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang... jadi berapa harga keajaiban itu ?"

"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu."

"Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya."

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, "Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?"

"Saya tidak tahu," jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya... tapi saya juga mempunyai uang."

"Berapa uang yang kamu punya ?" tanya pria itu lagi.

"Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini."

"Wah, kebetulan sekali," kata pria itu sambil tersenyum. "Satu dollar dan sebelas sen... harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu". Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata : "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu."

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal.... Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. "Operasi itu," bisik ibunya, "adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya".

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut...satu dollar dan sebelas sen... ditambah dengan keyakinan.
Hartoni

Pusing jadi nya...........

Kepanjangan tuch..... Jadi males dech kalo mau dibaca...
Apalagi wa bukan orang yang suka baca novel ato dengan kata lain semuanya tulisan semua......panjang lagi....

Bisa2 wa jadi stres nantinya.
Capoera

Bill seorang yang besar, aneh, dan sederhana. Dia berpakaian janggal, dengan pakaian yang tidak pas. Ada beberapa teman yang berpikir pintar bila mengejeknya. Suatu hari, seorang teman melihat sobekan kecil di kemejanya dan memberikan sobekan kecil lagi. Pekerja pabrik yang lain menambahkan sedikit sobekan lagi dan tidak lama sobekannya seperti pita yang terjuntai. Bill meneruskan kerjanya, dan ketika dia berjalan terlalu dekat dengan ban yang bergerak, sobekan kemejanya tersangkut di mesin. Dalam waktu singkat; lengan baju dan Bill berada dalam kesulitan. Alarm berbunyi, tombol-tombol ditarik, dan masalah terhindar. Tetapi mandor menyadari apa yang terjadi, memanggil para pekerja dan menceritakan kisah ini:

Ketika saya masih muda, saya bekerja di sebuah pabrik kecil. Di sana saya pertama kali bertemu dengan Mike. Dia berbadan besar dan jenaka, selalu membuat lelucon dan tipuan. Mike seorang pemimpin. Lalu ada seorang pengikut bernama Pete. Dia selalu bersama dengan Mike.

Dan ada seorang laki-laki bernama Jake. Dia agak lebih tua dari kami, pendiam, tidak berbahaya, dan menyendiri. Dia selalu makan siang sendirian. Dia mengenakan celana bertambal yang sama selama tiga tahun. Dia tidak pernah ikut permainan yang kami mainkan di siang hari, gulat, sepatu kuda, dan sejenisnya. Dia bersikap acuh tak acuh, selalu sendirian di bawah pohon. Jake selalu menjadi sasaran lelucon. Dia sering menemukan katak di kotak makan malamnya atau tikus mati di topinya. Tetapi dia selalu menganggapnya itu lelucon yang bagus.

Lalu suatu musim gugur, Mike cuti beberapa hari untuk pergi berburu. Tentu saja Pete ikut. Dan mereka berjanji pada kami semua jika mereka mendapatkan sesuatu maka mereka akan membawakan kami masing-masing satu bagian. Maka kami sangat senang ketika kami mendengar mereka kembali dan Mike mendapatkan rusa yang sangat besar. Kami mendengar lebih dari itu. Pete tidak pernah bisa menyimpan rahasia dan dia mengatakan kami mempunyai tipuan yang sangat besar untuk Jake. Mike memotong binatang itu dan membungkusnya dengan rapi untuk kami, dan untuk bahan lelucon, dia menyimpan telinga, ekor, dan kukunya. Akan sangat lucu ketika Jake membukanya.

Mike membagikan bungkusannya siang hari. Masing-masing kami menerima bagian yang bagus, membukanya, dan berterima kasih padanya. Bungkusan terbesar disimpannya. Itu untuk Jake. Pete tidak sabar dan Mike kelihatan sangat puas.

Seperti biasa, Jake duduk sendiri; dia berada di sisi yang jauh di sebuah meja yang besar. Mike mendorong bungkusan itu sehingga dia dapat meraihnya, dan kami semua duduk menunggu. Jake tidak pernah berkata banyak. Anda mungkin tidak tahu berapa kira-kira percakapan yang dibuatnya.

Jake memegang bungkusan itu dengan erat dan bangkit dengan pelan. Dia tersenyum lebar pada Mike dan kemudian kami memperhatikan matanya berkilau. Jakunnya naik turun sejenak dan kemudian dia dapat mengendalikan dirinya.

"Aku tahu kau tidak pernah melupakan aku," dia berterima kasih. "Aku tahu kau akan datang ! Kau berbadan besar dan suka bercanda, tapi aku tahu kau memiliki hati yang baik."

Dia menelan ludah lagi dan kemudian berkata pada kami. "Aku tahu aku tidak terlalu akrab dengan kalian, tapi aku tidak pernah bermaksud kasar. Kau tahu aku mempunyai sembilan anak di rumah dan seorang istri yang sakit-sudah empat tahun terbaring. Dia tidak membaik. Dan kadang-kala ketika keadaannya memburuk, aku harus merawatnya sepanjang malam. Sebagian besar gajiku untuk pergi ke dokter dan membeli obat. Anak-anak mengerjakan semua yang mereka bisa lakukan, tapi kadang kami tidak cukup makan. Mungkin kalian berpikir lucu ketika aku makan malam sendirian. Aku agak malu karena aku tidak selalu mempunyai sesuatu di antara roti isiku. Atau seperti hari ini, mungkin hanya ada lobak kasar di kotakku. Tapi aku ingin kalian tahu kalau daging ini sangat berarti untukku. Mungkin lebih dari setiap orang di sini karena malam ini anak-anakku..."

Dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya. "...malam ini anak-anakku akan mempunyai..."

Dia menarik ikatannya. Kami memandang Jake dengan sungguh-sungguh sehingga kami tidak memperhatikan Pete dan Mike. Tetapi kami semua melihat mereka sekarang karena mereka merebut bungkusan itu. Tetapi mereka terlambat, Jake telah membuka bungkusnya dan sudah melihat hadiahnya. Dia memeriksa setiap kuku, setiap telinga, dan kemudian dia memegang ekornya yang bergoyang lemas. Seharusnya menjadi lelucon yang sangat lucu, tapi tidak ada yang tertawa sama sekali. Tetapi bagian tersulit adalah ketika Jake memandang dan berkata, "Terima Kasih," dan mencoba tersenyum.

Dengan diam semua orang maju membawa bungkusan mereka dan meletakkannya di depan Jake karena mereka menyadari betapa hadiah kecil mereka mempunyai arti yang sangat besar bagi Jake ...sampai sekarang.

Kemudian mandor itu menyelesaikan ceritanya dengan meninggalkan para pekerja. Dia tidak perlu berkata lagi; tetapi sangat puas melihat setiap orang membagi makan siangnya dengan Bill dan salah satu teman bahkan melepaskan kemejanya dan memberikannya kepada Bill.
Capoera

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya.


Pukul 18.30. Tinnn....... .... Tiiiinnnnn.. ......... ... !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
"Mama, mama.... Mama, mama...." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?" Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?"

Tiba-tiba... "Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!" Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?

Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. TIN TIIIN ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. "Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya." Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka. Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?
Capoera

Cerita ini saya copy dari sebuah situs:pengarangnya yg memakai nick:Semarang_city

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak
Diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja.
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian IA di rumah Dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk
bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya,
Ataupun memetik bunga Dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu Hari dia melihat sebatang paku karat. Dan IA pun mencoret lantai
tempat Mobil ayahnya
Diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan
tidak
kelihatan.
Dicobanya lagi pada Mobil baru ayahnya. Ya... Karena Mobil itu bewarna
gelap,
Maka coretannya tampak jelas.
Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah Dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari
macet.
Setelah sebelah kanan Mobil sudah penuh coretan maka IA beralih ke sebelah
kiri Mobil.
Dibuatnya gambar ibu Dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing
Dan lain
Sebagainya mengikut imaginasinya.
Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat Mobil
yang
baru setahun
Dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya.
si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit,
"Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan
itu berlari keluar.
Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah
bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan '
Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang Hari,
Apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
kamarnya

Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh..
Cantik ... Kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti
biasa..
si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil
Dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak
tangan
anaknya.
Is anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus
ketakutan.
Puas memukul telapak tangan, is ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui Dan merasa puas
dengan hukuman
Yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa...
si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan Dan kemudian ganti
tangan kiri
anaknya.
Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut
menggendong
Anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan Dan belakang tangan is anak kecil
luka2 Dan berdarah.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air,
Dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat
luka2nya itu
Terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu.
si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak.
Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak
si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang
menghabiskan
waktu
Di kamar pembantu. si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.
Tiga Hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si
ibu juga begitu,
Meski setiap Hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab
pembantunya
Ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya.
Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup
lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk Hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu
badan Dita terlalu panas.
"Sore nanti Kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata
majikannya itu

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.
Dokter mengarahkan agar IA dibawa ke rumah sakit karena keadaannya
sudah serius.
Setelah beberapa Hari di rawat inap dokter memanggil bapak Dan ibu
anak itu.

"Tidak Ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua
tangan anak itu
Dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah Dan infeksi akut...
"Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya
harus dipotong
Dari siku ke bawah" kata dokter itu. Is bapak Dan ibu bagaikan terkena
halilintar mendengar
Kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan
lagi.

si ibu meraung merangkul is anak. Dengan berat hati Dan lelehan air
Mata isterinya,
si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis,
si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya
berbalut kasa putih.
Ditatapnya muka ayah Dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah.
Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan
menahan sakit,
si anak bersuara dalam lina ngan air Mata. "Ayah.. Ibu... Dita tidak
akan melakukannya lagi....
Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang
ayah..
Sayang ibu.",
Katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu
rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak
akan mengulanginya lagi!
Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain
nanti?
...
Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya.
Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia
dapat
menahannya.
Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan
hidupnya tanpa kedua
tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus
dipotong meski
sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran
bathin

sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan
wafat diiringi tangis
penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb
tetap hidup tegar
bahkan sangat sayang dan selalu merindukan

Semarang_city

(dari yang g denger cerita ini true story.. gila kesian banget anaknya )

       SaintPeter.co.cc Forum Index -> Aneka Soup ...
Page 1 of 1
Create your own free forum | Buy a domain to use with your forum
Home|Array|
Banners
Buy/sell ad space on your site.
|Home|HomeArray|Array|Home|Home|Array